Connect with us

Pendidikan

Mendikbud Terapkan Sistem SKS Untuk SMK, Dindik Jatim Siapkan Kajian

Diterbitkan

||

Mendikbud Terapkan Sistem SKS Untuk SMK, Dindik Jatim Siapkan Kajian

Memontum Surabaya – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makariem, sedang mengkaji perubahan kurikulum. Salah satunya yaitu dengan penerapan sistem SKS untuk jenjang SMK.

Menurut Plt Kepala Dinas Pendidikan Jatim, Hudiyono menuturkan perubahan kurikulum memang harus adaptif. Bahkan ada beberapa kurikulum yang harus menyesuaikan dengan perkembangan masa.

“Jatim memahami bahwa kurikulum selalu berubah. Untuk merubah ini perlu tahapan. Itu pun tidak semuanya dirubah. Ada komponen tertentu yang memang menyesuikan kebutuh industri,” ungkapnya.

Ia memaparkan kemampuan anak didik sangat bervariasi, sehingga ada pengklasifikasiannya. Karena itu, Jawa Timur sendiri sudah memberikan pelayanan kognisi kepada siswa dengan sistem SKS untuk SMA.

Sedangkan untuk jenjang SMK, pihaknya baru akan mengkaji perubahan terkait SKS. Pasalnya SMK memang fokus pada keterampilan kebutuhan industri.

“Desain kurikulum sudah dilakukan. Kaidah kurikulum yang standart. Tapi misalnya dari kepadatan kurikulum sudah memenuhi tahapan tahapan seperti membaca, mendengar, menulis, menganalisa dan praktek tidak ada masalah,” ujarnya.

Terpisah, Ketua Dewan Pendidikan Jatim, Prof Akh Muzakki, menjelaskan perubahan kurikulum membutuhkan road map secara nasional, sehingga tidak ada kesan berganti pejabat juga ada pergantian program secara nasional.

“Mendikbud tidak punya visi sendiri, visinya ya visi presiden. Yang menarik dari Mendikbud ini, melihat pendidikan sebagai investasi tidak kalah pentingnya menjawab dua tantangan ini,” papar nya.
Terlebih, di Jatim persoalan pendidikan vokasi masih menjadi pekerjaan rumah (PR) pemerintah.

Sebab, faktanya penyumbang angka pengangguran terbesar dua tahun belakangan ini adalah lulusan SMK, sehingga harus ada yang dibenahi.

“Bagaimana solusinya? Ya harus mensinergikan kebijakan baru dan kebutuhan di Jawa Timur. Bagaimana teknologi dapat dipergunakan untuk memperluas akses. Jangan sampai sekolah vokasi yang biayanya lebih mahal justru tidak memiliki nilai balik dari investasi yang diberikan,” urainya.

Ia menyebut BLK (Balai Latihan Kerja) saja tidak cukup. Penempatan keterampilan teknis melalui teknologi harus disertai dengan penguatan karakter kebangsaan.

Sebelumnya, wacana penerapan sistem SKS untuk jenjang SMK dinilai Menteri Nadiem efektif dalam memberikan ruang bagi siswa untuk berkompetisi dan meningkatkan keterampilannya.

“Dalam sistem SKS siswa yang dianggap pintar dan lebih cepat menguasai keahlian tertentu bisa lulus setelah dua tahun saja menempuh pembelajaran (kegiatan belajar-mengajar) di sekolah. Sedangkan siswa yang lambat menyerap ilmu bisa sampai empat tahun untuk lulus” pungkasnya. (ace/yan)

 

Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler