Pendidikan
Pengamat Pendidikan Sebut PTM Jangan Paksakan Semua Sekolah

Memontum Surabaya – Pengamat Pendidikan atau ketua bidang pengembangan profesi pendidik Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Martadi, mengatakan saat ini Surabaya bisa menggelar PTM namun yang harus diperhatikan kesiapan sekolah.
Kata dia, meskipun Surabaya yang paling siap menggelar PTM. Karena simulasi PTM beberapa kali dilakukan beserta dengan asesmen dari satgas Covid-19.
Baca Juga:
“Jadi perlu dilihat kembali untuk memastikan SOP prokes di sekolah. Agar anak (siswa) maupun guru disipilin dalam penerapan prokes. Selain itu harus ada rekomendasi dari satgas Covid-19. Karena yang tahu kondisi di lapangan (sekolah),” kata Martadi, Rabu (01/09).
Lanjut Martadi menjelaskan, yang paling penting saat PTM ini adalah persetujuan orang tua siswa. Karena orang tua dan pihak sekolah harus benar-benar memastikan keselamatan siswa ketika hendak berangkat dan pulang sekolah.
Lanjut dia lagi, jika orang tua tidak menyetujui anaknya mengikuti PTM maka pihak sekolah tidak perlu memaksakan siswa tersebut untuk hadir ke sekolah. Pelayanan bagi siswa yang tidak PTM juga harus dilakukan oleh sekolah.
“Justru yang perlu dipikirkan saat mereka (siswa) berangkat ke sekolah hingga pulang. Meraka naik apa? Diantarkan orang tua atau menaiki kendaraan umum. Karena ini harus dipastikan untuk keselamatan siswa agar tidak terpapar virus saat berangkat ke sekolah maupun pulangnya,” jelasnya.
Sebab itu, ia menjelaskan ketika kesiapan menggelar PTM sudah 100 persen. Maka tidak perlu memaksakan semua sekolah untuk menggelar PTM.
“Bisa dilakukan tapi terbatas jangan dipaksakan semua sekolah. Tapi dari hasil evaluasi ketika menujukkan hasil yang baik maka perlu diperluas,” tegasnya.
Lebih lanjut, Martadi menyebut saat ini 70 persen menginginkan PTM di Surabaya di gelar.
“Hasil survei saya selama ini dari 176 ribu responden yang terdiri dari guru, kepala sekolah, siswa dan juga orang tua 70 persennya ingin PTM digelar,” ungkapnya.
Lanjut Martadi menambahkan, Terkait belum banyaknya siswa yang tervaksin, menurut Martadi hal itu bukan menjadi persoalan atau hambatan digelarnya PTM.
Menurutnya, jika menunggu vaksin bagi pelajar akan lama, mengingat ketersediaan vaksin juga terbatas saat ini.
“Itu saya pikir tidak apa-apa tapi yang paling penting semua harus disiplin prokes. Karena kuncinya disitu,” jelasnya. (ade/ed2)

Pemerintahan6 tahunDana Hibah Rp 2,9 Triliun 11 OPD Provinsi Jatim Diduga Fiktif
Komunikasi Sosial6 tahunSahabat Pena Out Bond Bersama Anak Yatim Yayasan Al Ashar
Hukum & Kriminal7 tahunAdvokad Sa’i Rangkuti Blokir Sertifikat Budi Hartono Sidarta, Sengketa Tanah Jalan Raya Babatan VI Unesa Lidah Wetan
Pemerintahan6 tahunRSUD dr Soetomo Dikabarkan Overload, DPRD: Pemkot Surabaya Sebaiknya Optimalkan Puskesmas
Pemerintahan9 bulanGubernur Khofifah Kirimkan Bantuan Logistik untuk Masyarakat Pulau Bawean
Pendidikan6 tahunITS dan Unair Bekerjasama Pembuatan Robot RAISA
Pemerintahan10 bulanTidak Ingin Bebani Warga dengan Kenaikan Pajak, Pemkot Surabaya Lakukan Pembiayaan Alternatif
Politik9 bulanPDI Perjuangan Jatim Gelar Psikotes untuk 24 Calon DPC dan DPD Jawa Timur

















