SEKITAR KITA
Semester 1 Tahun 2021, Hampir 50 Ribu Jumlah Penduduk di Jawa Timur Berkurang

Memontum Surabaya – Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kemendagri RI mengumumkan Data Kependudukan Bersih atau DKB Semester 1 Tahun 2021.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perlindungan Perempuan Anak dan Kependudukan (DP3AK) Provinsi Jawa Timur, Andriyanto, menerangkan bahwa DKB adalah data perseorangan maupun data agregat yang terstruktur sebagai hasil dari kegiatan pendaftaran penduduk dan pencatatan sipil.
Baca Juga:
“Data itu sudah dikonsolidasikan dan dibersihkan oleh Kementerian Dalam Negeri, yang diterbitkan setiap 6 bulan atau per semester,” kata Andriyanto, Senin (09/08).
Berdasarkan data tersebut, kata Andriyanto, jumlah penduduk Jawa Timur berdasarkan DKB semester 2 Tahun 2020 sebesar 41.044.406 jiwa, dan berdasarkan DKB semester 1 Tahun 2021 sebesar 40.994.515 jiwa, ada penurunan 49.891 atau hampir 50.000 jiwa.
“Penurunan jumlah penduduk ini, dapat terjadi mengingat di masa Pandemi Covid 19 sejak bulan Januari sampai Juli 2021, masif dilaporkan tentang data kematian masyarakat ke Dinas Dukcapil Kabupaten Kota setempat,” ujarnya.
Andriyanto menambahkan, oleh Dinas Dukcapil segera diterbitkan Akta Kematian dan Kartu keluarga (KK) baru, untuk menghilangkan anggota keluarga yang telah meninggal. Kemudian, dilaporkan ke Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) Pusat.
“Penurunan jumlah penduduk Jawa Timur juga seiring dengan upaya KPU dalam menghilangkan atau membersihkan Penduduk yang telah meninggal dunia tapi masih tercatat di Kartu Keluarga,” terangnya.
Selain itu, per 8 Agustus 2021, DP3AK juga mencatat jumlah kematian akibat Covid 19 di Jawa Timur sebesar 22.932. Dengan uraian, diantaranya anak-anak yang meninggal sebanyak 125 Jiwa, dengan rincian usia 0 sampai 5 tahun sebanyak 59 jiwa dan usia 6 hingga 18 tahun sebanyak 66 jiwa.
“Pendataan masih dalam proses di kabupaten kota di Jawa Timur, yang kemudian akan dilakukan intervensi berupa pemberian bantuan sosial spesifik anak, pendampingan Psikologi, peningkatan kapasitas ekonomi Anak, pemberian hak sipil Anak, dan lain-lain,” ungkapnya.
Sementara itu, lanjutnya, upaya intervensi kepada anak-anak dilakukan secara paripurna dan berkelanjutan, dengan melibatkan seluruh stakeholders yang ada. “Seperti lembaga masyarakat dalam dan luar negeri, pengusaha, media, perguruan Tinggi, Himpunan Psikolog Jawa Timur, UNICEF dan lainnya,” terangnya. (ade/sit)

Pemerintahan6 tahunDana Hibah Rp 2,9 Triliun 11 OPD Provinsi Jatim Diduga Fiktif
Komunikasi Sosial6 tahunSahabat Pena Out Bond Bersama Anak Yatim Yayasan Al Ashar
Hukum & Kriminal7 tahunAdvokad Sa’i Rangkuti Blokir Sertifikat Budi Hartono Sidarta, Sengketa Tanah Jalan Raya Babatan VI Unesa Lidah Wetan
Pemerintahan6 tahunRSUD dr Soetomo Dikabarkan Overload, DPRD: Pemkot Surabaya Sebaiknya Optimalkan Puskesmas
Pemerintahan9 bulanGubernur Khofifah Kirimkan Bantuan Logistik untuk Masyarakat Pulau Bawean
Pendidikan6 tahunITS dan Unair Bekerjasama Pembuatan Robot RAISA
Pemerintahan10 bulanTidak Ingin Bebani Warga dengan Kenaikan Pajak, Pemkot Surabaya Lakukan Pembiayaan Alternatif
Politik9 bulanPDI Perjuangan Jatim Gelar Psikotes untuk 24 Calon DPC dan DPD Jawa Timur

















