SEKITAR KITA

Tampil Menawan di Surabaya Fashion Parade 2025, Kota Probolinggo Hadirkan Kolaborasi 9 Desainer

Diterbitkan

-

ELEGAN: Salah satu model yang menampilkan hasil desainer Probolinggo. (pemkot for memontum)

Memontum Surabaya – Kota Probolinggo kembali menegaskan eksistensinya di panggung mode bergengsi Surabaya Fashion Parade (SFP) 2025, yang digelar di Convention Hall Tunjungan Plaza Surabaya, Jumat (14/11/2024) tadi. Tahun ini, untuk kedua kalinya, Dekranasda bersama desainer lokal unjuk keberanian mempromosikan batik khas Kota Probolinggo yang dikemas lebih modern, ekspresif dan berkarakter.

Dalam SFP 2025 yang mengusung tema ‘Rebellion’, Kota Probolinggo menampilkan koleksi kolaboratif dari 9 desainer lokal dengan total 10 busana, ditambah partisipasi dari 9 desainer lainnya. Karya utama yang diangkat oleh Ketua Dekranasda, dr Evariani Aminuddin, adalah Larasing Rupo. Sebuah koleksi yang mengangkat filosofi harmoni dalam rupa, wujud dan makna, sekaligus menantang perspektif konvensional mengenai keindahan.

“Dengan bangga Kota Probolinggo kembali tampil di Surabaya Fashion Parade. Tahun ini kami mempersembahkan ‘Larasing Rupo’, sebuah karya yang tidak hanya memamerkan keindahan batik khas Probolinggo, tetapi juga membawa filosofi tentang harmoni,” ujar Evariani.

Secara makna, Larasing Rupo menggambarkan keselarasan antara wujud, bentuk dan pesan yang terkandung di dalamnya. Motif Asmara Dhana diterjemahkan ulang dengan memasukkan unsur biota laut Probolinggo, seperti ubur-ubur, kerang dan ganggang laut.

Advertisement

Sebuah simbol harmoni dalam kehidupan bawah laut. Fenomena kemunculan ribuan ubur-ubur di perairan Probolinggo, yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem, menjadi titik inspirasi utama.

“Kami ingin menunjukkan bahwa keindahan bisa lahir dari mana saja, termasuk dari laut Probolinggo yang kaya akan kehidupan. Ini selaras dengan tema Rebellion, karena kami ingin menantang persepsi konvensional tentang cantik, bahwa keindahan tidak harus sempurna, tetapi harus selaras,” imbuh istri Wali Kota Probolinggo, dr Aminuddin.

Baca juga :

Dokter Evariani yang juga tampil dengan busana batik khas Kota Probolinggo, merasa bangga bisa ikut mewadahi para desainer lokal tersebut. Harapannya, untuk bisa membawa nama Kota Probolinggo agar semakin dikenal khalayak luas.

Para desainer lokal menghadirkan ragam karya dengan interpretasi masing-masing terhadap tema besar SFP tahun ini. Diantaranya, Endik Suwandi menghadirkan 2 busana pria berjudul ‘Mangga Sukur Jayasena’ dan ‘Suluran Tinjang Wirotama’, yang menonjolkan karakter maskulin melalui garis tegas dan motif khas Probolinggo.

Advertisement

Ada Vivin Nur Fithria tampil sebagai desainer utama koleksi Larasing Rupo, memadukan motif batik Asmara Dhana dengan elemen biota laut seperti ubur-ubur, kerang dan ganggang laut. Sedangkan Muchlis Ansori yang akrab dengan Aan Famous membawa karya ‘Harsa Bodhag’, menampilkan gaya kuat, energik dan penuh dinamika.

Sedangkan Dyas Famous membawa karya ‘Phala Probolinggo’, yang menonjolkan kekayaan visual dan karakter budaya lokal. Lina Mardiana dengan karya ‘Segara Sundari’, terinspirasi dari nuansa pesisir Probolinggo yang feminin namun berdaya. Inggita Safitri menghadirkan ‘Fiora Lituhayu’, koleksi yang menggabungkan kelembutan siluet dengan detail ornamen yang anggun.

Lalu ada Mardiya melalui karyanya ‘Padma Jaladri’, menghadirkan interpretasi busana bernuansa laut dengan sentuhan elegan. Aisha Alva menampilkan ‘Samira Manjari’, karya yang memadukan kesegaran warna dan motif untuk menghadirkan suasana penuh energi. Desainer lainnya, Anita Eka ikut melengkapi jajaran karya dengan ‘Sekar Arum’, menghadirkan visual yang lembut namun tetap berkarakter.

Melalui karya ini dan keberanian para desainer lokal, dirinya ingin menegaskan bahwa Kota Probolinggo memiliki kreativitas, keterampilan dan karakter kuat untuk bersaing di panggung mode nasional.

Advertisement

Surabaya Fashion Parade tahun ini memasuki usia 18 tahun, menjadikannya salah satu gelaran mode paling konsisten di Indonesia. Pendiri SFP, Dian Apriliana Dewi, menegaskan bahwa tema Rebellion merupakan simbol keberanian berkarya tanpa batas.

Dengan dukungan tata panggung teatrikal, koreografi model yang terarah, serta pencahayaan dramatis, SFP 2025 kembali menjadi ruang bagi para kreator untuk mengekspresikan ide segar dan progresif. (kom/pro/gie)

Advertisement
Click to comment

Tinggalkan Balasan

Terpopuler

Lewat ke baris perkakas