Kota Malang
Jaga Keharmonisan Negara, Gubernur Jatim Tekankan Tiga Hal Penting

Memontum Kota Malang – Dalam membangun keharmonisan sebuah bangsa yang memiliki keberagaman, tentu harus ada banyak cara yang dilakukan. Karena itu, Gubernur Jawa Timur (Jatim), Khofifah Indar Parawansa, menekankan tiga hal penting.
Disebutkan Gubernur Khofifah, bahwa tiga hal itu meliputi mutual understanding (pemahaman, red), trust (kepercayaan, red), respect (menghormati, red). Ketiga hal itu, jika disatukan akan menjadi kekuatan dan menumbuhkan keharmonisan.
“Kalau ketiga hal itu sudah, maka insyaallah harmoni itu bisa kita wujudkan. Karena kita juga sudah ada kekuatan,” kata Gubernur Khofifah, seusai menjadi nara sumber dalam kegiatan ‘Mencegah Masuknya Paham Intoleransi Dalam Keluarga TNI AD’ bersama Persit Kartika Chandra Kirana Koordinasi Cabang Divif 2 PG Kostrad Malang, Jumat (18/03/2023) sore.
Sehingga, menurutnya ketiga hal tersebut harus terus diasah. Baik dari semua lini, elemen dan semua level. Dimana, juga harus ada proses yang terus terbentuk.
Baca juga :
- Jatuh dari Kapal, ABK LCT Kinta Perjaya Ditemukan Dalam Kondisi Meninggal di Perairan Timur Suramadu
- Persiapan Venue Porprov Jatim X 2027 Surabaya Ditargetkan Tuntas 2026
- Masuki Hari Ke-14, Embarkasi Surabaya Berangkatkan 17.835 CJH dan Petugas
- Perkuat Kebersamaan hingga Kebaikan, Better Youth Gelar Guyub Bareng Baik Bareng
- Kepala Basarnas Tinjau Kesiapsiagaan SAR Lebaran 2026 di Surabaya
“Kalau sudah ada tiga hal itu, tentu tidak mudah kalau ada yang mau mengganggu, disharmonisasi, berpotensi memecah persaudaraan dan persatuan, tentu itu tidak mudah,” lanjutnya.
Kemudian, Gubernur Khofifah juga menyinggung jika cikal bakal munculnya paham intoleransi dapat dipicu karena hal kecil. Mulai dari tidak adanya rasa untuk saling menghormati dan menghargai budaya-budaya yang ada di Indonesia.
“Jika persaudaraan terganggu, maka persatuan juga akan terganggu. Kemudian, ketahanan nasional juga dapat terganggu. Kegiatan ini tentu menjadi referensi awal bagaimana melihat anak-anak dari gen Z untuk melihat persatuan dan persaudaraan di antara mereka,” ungkapnya.
Lebih lanjut pihaknya juga mengimbau, kepada para Persit untuk terus mengawasi pergaulan seorang anak. Hal tersebut perlu dilakukan, agar ideologi transnasional yang memecah belah tak mengkontaminasi pikiran anak. “Kita ingin pastikan bahwa anak-anak tidak terkontaminasi ideologi transnasional yang tidak berseiring. Karenanya, harus berhati-hati mengirim putra-putri untuk menempuh pendidikan,” imbuhnya. (rsy/sit)

Pemerintahan6 tahunDana Hibah Rp 2,9 Triliun 11 OPD Provinsi Jatim Diduga Fiktif
Komunikasi Sosial6 tahunSahabat Pena Out Bond Bersama Anak Yatim Yayasan Al Ashar
Hukum & Kriminal7 tahunAdvokad Sa’i Rangkuti Blokir Sertifikat Budi Hartono Sidarta, Sengketa Tanah Jalan Raya Babatan VI Unesa Lidah Wetan
Pemerintahan6 tahunRSUD dr Soetomo Dikabarkan Overload, DPRD: Pemkot Surabaya Sebaiknya Optimalkan Puskesmas
Pemerintahan9 bulanGubernur Khofifah Kirimkan Bantuan Logistik untuk Masyarakat Pulau Bawean
Pendidikan6 tahunITS dan Unair Bekerjasama Pembuatan Robot RAISA
Pemerintahan10 bulanTidak Ingin Bebani Warga dengan Kenaikan Pajak, Pemkot Surabaya Lakukan Pembiayaan Alternatif
Politik9 bulanPDI Perjuangan Jatim Gelar Psikotes untuk 24 Calon DPC dan DPD Jawa Timur

















